Kenapa mau ngambil Unit-Link ?

Gue kepikiran untuk nulis ginian karena gue liat makin banyak temen2 di kantor yang ikutan beli Unit-Link. Dan anehnya, semua beli dari satu perusahaan yang sama yaitu P. Dulu pun sebenernya gue udah sempet di-prospek ama salah satu agennya, cuma karena waktu itu mereka blom punya produk Unit-Link Syariah, akhirnya gue tolak meskipun sebenernya sekarang mereka udah punya. Emang sihh setelah gue dua kali ikutan seminar tentang perekonomian syariah beberapa tahun lalu di JHCC, mata gue sedikit terbuka untuk lebih memilih produk ekonomi syariah baik itu tabungan, asuransi, maupun reksadana.

Oke balik lagi ke soal Unit-Link. Jujur aja gue punya dua produk Unit-Link Syariah semenjak satu tahun lalu :

Produk pertama keluaran T. Dengan membayar premi 5 juta per-tahun, gue dapet uang pertanggungan sebesar 40juta. Dengan masa pembayaran premi selama 16 tahun, gue dikenakan tabarru’ sebesar 7,5% dari premi tahunan alias sebesar 375ribu pertahun. Dan tabarru’ itu hanya dikenakan selama 8 tahun aja. Biaya pengelolaan hanya dikenakan satu kali yaitu sebesar 32,5% dari premi tahunan alias 1,625 juta yang dibayar satu kali didepan. Produk ini gue rasa paling transparan dalam hal biaya dibandingin produk sejenis dari perusahaan lain.

Produk kedua keluaran A. Premi yang harus gue bayar sebesar 1juta rupiah perbulan alias 12juta pertahun. Memang lebih gede dari produk pertama, tapi uang pertanggungan yang gue dapet itu juga gede. Berikut rinciannya :

  • Kalo meninggal sebelum usia 100 tahun, dapet 200juta.
  • Kena penyakit kritis sebelum usia 70 tahun, bakal dapet 200juta lalu premi dibayarin sampe usia 65 tahun.
  • Meninggal atau cacat karena kecelakaan sebelum usia 65 tahun, juga dapet 200juta plus tambahan 200juta lagi dari pertanggungan dasar.
  • Kalo menderita cacat tetap total sebelum usia 65 tahun, bakal dapet 200juta.

Cuma sayangnya di ilustrasi awal, produk ini cuma ngegambarin manfaat asuransi dan perkembangan dana investasi aja tanpa menyebutkan detil biaya dan tabarru’ yang mesti kita tanggung tiap tahun. Di ilustrasi cuma disebutin ada biaya administrasi Rp 26.500 per-bulan. Setelah keluar polis, gue baru tau ternyata detil biaya nya adalah :

  • Tahun ke-1, TIDAK ADA porsi dari premi berkala yang akan di-investasikan alias 100% masuk kantong perusahaan sebagai biaya akuisisi dan pemeliharaan.
  • Tahun ke-2, hanya 45% dari porsi premi berkala yang akan di-investasikan.
  • Tahun ke-3, ada 80% dari premi berkala akan di-investasikan.
  • Tahun ke-4 dan ke-5. ada 90% dari premi berkala akan di-investasikan.
  • Tahun ke-6 dst, seluruh premi berkala akan di-investasikan.
  • Besarnya tabarru’ tiap tahun akan berubah seiring penambahan usia, tetapi angka persis nya BARU AKAN kita ketahui setiap awal perpanjangan polis. Artinya kalo polis kita berlaku mulai 12 Desember 2007 maka detil besaran tabarru’ yang harus kita bayar tiap bulan, baru akan kita ketahui setiap tanggal 12 Desember tiap tahunnya. Dan tabarru’ tersebut harus kita bayar TIAP BULAN sampai usia kita 65-100 tahun (tergantung rider yang kita ambil).
  • Biaya pengelolaan resiko dikena’in 25% dari besaran tabarru’ yang kita bayar TIAP BULAN.
  • Biaya administrasi sebesar Rp 26.500 yang dibayar juga TIAP BULAN.
  • Biaya pengelolaan investasi dikena’in 2% tiap tahun dari total dana yang kita punya saat itu.

Bisa liat kan ? Betapa tidak transparannya si perusahaan dalam memasarkan produknya. Cuma sayangnya kita sebagai nasabah Unit-Link baru bisa tau detil biaya tersebut kalo udah megang polis, alias udah terlanjur beli Unit-Link. Mau nanya ama agennya ? Wong kita orang awam kok, apa yang mau kita tanyain juga bingung. Bahkan seandainya pun kita tanya, apa agennya tau jawaban nya dan apa dia juga bersedia untuk ngaku ? Coba bayangin kalo loe semua tau detil kayak gitu pas agennya nawarin Unit-Link ke loe. Apa loe masih teuteup mau beli ? You answer yourself…

Setelah banyak ikut diskusi di forum dan juga ngakses beberapa blog tentang investasi dan asuransi, barusan gue baca tulisannya mas Priyadi tentang Asuransi Unit Link vs Reksadana. Saat ini gue buletin tekad untuk menutup semua Unit-Link yang gue punya dan sesegera mungkin gue tebus duit nya. Gue mesti misahin antara Asuransi dan Investasi.

Untuk yang udah punya Unit-Link mungkin bisa ngejawab pertanyaan sederhana berikut ini –> Apa tujuan loe beli Unit-Link ?
Sekarang kita lihat beberapa alternatif jawabannya :

  1. Gue tertarik dengan ilustrasi perkembangan dana gue setelah sekian tahun nanti, gede banged tuh kayaknya. Berarti concern loe adalah ke arah investasi. Kalo emang begitu, gimana kalo gue bilang dengan besaran dana yang sama yang mesti loe setor tiap bulan itu, loe bisa dapet perkembangan dana yang jauh lebih besar kalo loe taro’ di reksadana. Ingat komponen2 biaya yang gue sebutin sebelumnya ? Bayangin kalo semua komponen itu kita investasikan, dan bukan malah kita kasih gratis begitu aja ke perusahaan asuransi.
  2. Gue liat perlindungan asuransi nya lumayan gede dan komplit. Berarti concern loe adalah pada komponen asuransi nya. Gimana kalo gue bilang, dengan biaya yang hanya 1/5 nya loe bisa dapetin manfaat asuransi yang besarnya sama persis, seandainya loe masukin dana itu ke asuransi murni term-life konvensional ataupun syariah. Ngapain bayar mahal kalo bisa dapet manfaat yang sama atau bahkan lebih besar ?
  3. Gue mau yang praktis aja, duit gue di-investasiin sekaligus gue dapet perlindungan asuransi. Nahhh, ini alesan gue pada awalnya waktu gue mutusin untuk beli dua produk Unit-Link itu tadi. Setelah loe baca dua alternatif jawaban sebelumnya, berarti loe juga udah tau bahwa langkah terbaik adalah MEMISAHKANNYA. Yaa dengan misahin komponen asuransi dan investasi, banyak manfaat yang bisa kita dapet dan juga tidak banyak biaya2 yang kita keluarin untuk si pengelola dana. Kita ambil asuransi murni term-life jangka pendek untuk perlindungan asuransi, dan kita ambil reksadana untuk media investasi dana kita di masa depan. Itung2an tehnikal soal ini pernah juga gue tulis di sini, dan juga bisa diliat di artikel nya mas Priyadi.

So guyz……
Tanpa bermaksud untuk mempengaruhi, gue cuma pengen sharing pemikiran dan pengalaman. Tunggu apalagi, coba kaji ulang keputusan loe untuk membeli Unit-Link. Kalo memang banyak keuntungannya, silahkan diteruskan. Kalo lebih banyak mudarat nya, berhenti lah mulai sekarang dan bertindaklah bijaksana dengan memisahkannya.

Kalo mas Priyadi bilang sih, yang kayak2 gini ini adalah Ilusi Finansial. Ada upaya untuk menutup-nutupi komponen biaya, entah itu disengaja atau tidak. Entah itu strategi pemasaran atau memang trik bisnis. Semakin banyak kita sharing, maka akan semakin terbuka pikiran kita. Mari sama-sama belajar……

128 Komentar

    Error thrown

    Call to undefined function ereg()