Bayar Zakat dulu, baru bayar Pajak

Sebelumnya gue pengen ngingetin nih…. hari ini (31 Maret 2008) adalah hari terakhir untuk menyampaikan laporan SPT Tahunan 2007. Buruan gih pergi ke kantor Pajak dimana loe terdaftar dan mendapatkan NPWP, trus serahin deh laporan nya. Ini kewajiban lohhh, bahkan ada sangsi nya kalo gak dilakukan. Kalo gak menyampaikan laporan karena lupa, atau menyampaikan tapi isinya gak lengkap atau gak bener, maka hukumannya kurungan maksimal 1 (satu) tahun penjara. Kalo gak menyampaikan laporan karena sengaja, hukumannya kurungan maksimal 6 (enam) tahun penjara. Gile kan tuh ?

Tapi tunggu dulu…… loe boleh gemeteran ngebayangin hukuman oleh negara gara2 kita gak bayar Pajak Penghasilan (PPh). Tapi apa loe pernah ngebayangin bagaimana maha dahsyat nya hukuman Allah SWT gara2 kita gak bayar Zakat Penghasilan ? Jangan salah ngerti soal Zakat ini, karena masih banyak orang yang beranggapan bahwa kewajiban Zakat itu cuma pada akhir Ramadhan doang (alias Zakat Fitrah). Padahal tujuan Zakat itu sendiri kan untuk ngebersihin harta yang kita miliki, karena di dalam nya ada hak-hak orang lain yang harus kita keluarin. Itu berarti termasuk juga penghasilan yang kita dapet tiap bulan dari kantor, harus kita keluarin Zakatnya. Kalo loe gak ngeluarin Zakat dari tiap penghasilan yang loe terima tiap bulan, itu sama aja loe telah memakan hak orang lain. Apa loe pernah ngebayangin sangsi dan hukuman Allah SWT akibat memakan hak orang lain ?

Emang sih, dulu-dulu masih ada perbedaan pendapat soal Zakat Penghasilan. Tapi sejak 7 Juni 2003, MUI udah ngeluarin Fatwa tentang Zakat Penghasilan ini. Disitu dijelasin bahwa yang dimaksud dengan Penghasilan adalah setiap pendapatan seperti gaji, honorarium, upah, jasa, dan lain-lain yang diperoleh dengan cara halal, baik rutin seperti pejabat negara, pegawai atau karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara,konsultan, dan sejenisnya, serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya. Dan penghasilan itu tadi, baru wajib dikeluarin Zakat nya 2,5% kalo udah mencapai nishab dalam satu tahun senilai emas 85 gram. Kalo asumsi 1 gram emas itu seharga 200ribu, berarti nishab dalam satu tahun sebesar 17juta. Loe itung2 deh, gaji loe setahun itu udah mencapai 17juta atau blom ? Kalo udah nyampe 17juta atau lebih, maka loe udah punya kewajiban untuk ngeluarin Zakat Penghasilan. Jangan cari2 alesan lagi, buruan keluarin zakat nya.

Tapi mana yang mesti duluan yaa, bayar Pajak atau bayar Zakat dulu ?

Sekarang mari kita berfikir terbuka dengan mengandalkan akal dan rasional. Logika nya sekarang kita punya dua kewajiban yang melekat pada penghasilan kita, yaitu kewajiban membayar Pajak dan kewajiban mengeluarkan Zakat. Pajak merupakan kewajiban kita terhadap negara atau Pemerintah, sedangkan Zakat merupakan kewajiban kita sebagai seorang muslim terhadap Allah SWT. Secara hirarki, bentuk pertanggungjawaban yang paling tinggi adalah kepada Allah SWT. Dengan menggunakan logika yang sama, maka yang harus kita tunaikan lebih dahulu adalah mengeluarkan Zakat dari penghasilan kita, baru setelah itu membayar Pajak ke negara.

Tapi apa yang terjadi sekarang ini di Indonesia ? Kebanyakan pegawai di beberapa perusahaan, penghasilan bruto nya dipotong pajak terlebih dahulu oleh perusahaannya, sehingga mendapatkan penghasilan netto atau Take Home Pay. Dari penghasilan netto nya ini, baru kemudian si pegawai mengeluarkan Zakat nya. Hal ini udah menyalahi logika yang kita gunakan di atas.

Padahal Pemerintah udah ngeluarin keputusan melalui Direktorat Jenderal Pajak No. KEP-163/PJ/2003 tentang Perlakuan Zakat atas Penghasilan dalam penghitungan Penghasilan Kena Pajak Pajak Penghasilan. Di Pasal 1 disebutin bahwa Zakat atas penghasilan yang nyata-nyata dibayarkan oleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri pemeluk agama Islam dan atau Wajib Pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama Islam kepada badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah sesuai ketentuan Undang-undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, boleh dikurangkan dari penghasilan bruto Wajib Pajak, badan atau penghasilan neto Wajib Pajak orang pribadi yang bersangkutan dalam menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak. Nahhh udah jelas kan ? Penghasilan bruto ini dikeluarin dulu Zakatnya untuk mendapatkan angka Penghasilan Kena Pajak, baru diitung besaran Pajak yang harus dibayar.

Kendalanya memang karena tiap perusahaan udah diwajibin ama Pemerintah untuk memungut PPh tiap pegawainya untuk kemudian disetorkan ke Dirjen Pajak. Pada akhir tahun pajak, tiap pegawai wajib untuk melaporkan SPT tahunannya sendiri ke kantor pajak. Karena dipungut duluan ama perusahaan, jadi gak bisa dehh diterapin logika berfikir yang sama kayak sebelumnya. Maksudnya, kita gak bisa ngeluarin Zakat nya dulu, baru bayar Pajak.

Meskipun pada SPT Tahunan (Form 1770 S) sebenernya kita bisa isi besar Zakat yang udah pernah kita keluarin pada tahun pajak yang bersangkutan (Kolom A.5) , untuk kemudian nanti dikurangin dari Penghasilan Netto (Kolom A.4) untuk ngedapetin Jumlah Penghasilan Netto setelah pengurangan Zakat (Kolom A.6). Setelah kolom A.6 itu tadi kita kurangin ama Penghasilan Tidak Kena Pajak (Kolom B.7), maka kita dapetin angka Penghasilan Kena Pajak (Kolom B.8).

Kalo kita udah masukin besaran Zakat yang kito setor ke dalem formulir SPT, maka PPh Terhutang (Kolom C.11) kita pasti akan lebih kecil dibandingin PPh yang udah dipungut ama Perusahaan (Kolom D.12). Dengan begitu ada PPh yang lebih bayar (Kolom D.13b), dan itu menjadi hak kita untuk di-kreditkan kembali ke kita sebagai wajib pajak. Waktu gue ngelaporin SPT Tahunan waktu itu sihh emang kayak gitu gue ngisinya. Tapi pas sampe di kantor pajak, petugas nya bilang : “Mending Zakat nya gak usah dimasukin ke dalam laporan Pak, soalnya nanti urusannya ribet dan berbelit. Bakal ada proses verifikasi macem2.” Karena gue gak mau repot, yaaa udah lah atur aja gue bilang, akhirnya paramater Zakat gue gak masukin dalem laporan SPT Tahunan 2007 gue. Trus apa gunanya dong Keputusan Dirjen Pajak No. KEP-163/PJ/2003 itu ?

Sebetulnya ada solusi konkret untuk masalah ini, usul aja sihh :

BAZNAS harus punya power yang sama seperti Dirjen Pajak. Kalau Dirjen Pajak bisa “memaksa” Perusahaan untuk mengutip PPh dari karyawannya dan kemudian menyetorkannya ke Dirjen pajak, mestinya BAZNAS pun harus bisa juga “meminta” tiap Perusahaan untuk mengutip Zakat Penghasilan dari tiap Karyawannya yang muslim dan kemudian menyetorkannya ke BAZNAS.

Tinggal bagaimana Pemerintah selaku regulator untuk mau mendukung upaya ini. Logika nya harus teuteup sama.
Bayar Zakat dulu, baru bayar Pajak.

18 Komentar

    Error thrown

    Call to undefined function ereg()