Mesin Uang bagi Korporasi Besar

Hhhmmm….. Mungkin blom banyak yang sadar dan tahu dari mana sebenernya sumber kekayaan utama sebagian besar korporasi-korporasi di dunia ini. Kalo misalnya gue bilang, sumbernya adalah dari dompet kita-kita ini orang yang awam tentang strategi keuangan, percaya gak ? Disadari atau enggak, korporasi-korporasi ini telah mengeruk dan akan terus mengeruk uang dan kekayaan kita setiap hari nya.

Tulisan ini ter-inspirasi dari artikel disini, dan setelah diresapi, inilah kenyataan. Kenyataan pahit yang harus kita hadapi bahwa korporasi-korporasi raksasa (The Giant Corporations) inilah yang telah menjadi “maling” dan hampir setiap hari “mencuri” uang pelanggannya. Mulai dari perusahaan asuransi, telekomunikasi, bank penyedia kartu kredit, supermarket, dll.

Kita semua tentu sadar bahwa tidak mudah mencari nafkah (uang –Red) di jaman sekarang ini, dan untuk itulah kita harus dan wajib untuk mempertahankan segala hasil dari apa yang udah susah payah kita perjuangkan itu. Tidak ada seorang pun yang berhak atas segala hasil kekayaan yang telah kita peroleh selain diri kita sendiri. Meskipun bagi gue sebagai umat muslim meyakini bahwa ada 2,5% hak orang lain yang harus disisihkan dalam bentuk zakat. Tapi inti nya adalah, pertahankan apa yang menjadi milik kita apapun taruhannya. Kalau kita gak mampu mempertahankannya, bukan tidak mungkin malah justru kita akan menjadi budak dan mesin uang bagi korporasi-korporasi raksasa yang akan terus mengeruk kekayaan kita dengan segala kelicikannya.

Begini logika awal sederhana nya….. Setiap perusahaan tentu punya target, baik itu target penjualan, hasil investasi, premi nasabah, perkembangan nilai saham, dsb. Para top manajer dan ahli pemasaran di perusahaan tersebut akan terus memutar otak bagaimana caranya supaya keuntungan perusahaan terus meningkat dari tahun ke tahun. Kunci mereka ada di konsumen, karena memang konsumen lah target penjualan mereka. Untuk itu, maka konsumen lah yang akan dijadikan target sebagai mesin penghasil uang mereka. Produk-produk akan di-rekayasa dengan berbagai macam skema agar konsumen “mau untuk membayar lebih” dengan imbal balik berupa berbagai kemudahan, fasilitas, iming-iming keuntungan berlipat, dll. Tapi pernahkah kita berpikir, apakah kita benar-benar membutuhkan semua imbal balik itu ?

Ayoo kita bahas sebagian contoh aja.

Jerat Unit-Link

Sebenernya gue juga pernah nulis tentang Unit-Link disini dan juga disini. Cukup banyak tanggepan yang gue dapet, tapi satu inti nya, sebagian oknum agen asuransi telah memanfaatkan keawaman masyarakat Indonesia untuk mengejar target nya. Ujung2nya untuk membesarkan perusahaan asuransi tempatnya bekerja. Siapa yang dikorbankan dan siapa yang dimanfaatkan ? Jelas nasabah mereka, yang telah mereka jadikan mesin uang yang akan terus bekerja seumur hidup mengisi pundi-pundi kekayaan perusahaan.

Kenapa gue bilang seumur hidup ? Gini…. Untuk yang pernah di-prospek atau bahkan sudah memiliki Unit-Link, coba diliat lagi polis nya. Rata-rata program Unit-Link menawarkan masa pertanggungan asuransi sampai usia tertanggung 100 tahun, atau ada juga yang kurang dari itu. Meskipun mereka bilang premi cukup dibayar selama 6 atau 10 tahun aja, Bull Shit !!! Jangan percaya….. Premi akan terus dibayar oleh nasabah sampe usia nasabah 100 tahun sekalipun. Trus duit siapa yang dipake buat bayar premi sampe usia 100 tahun itu ? Yaaa duit nasabah lahh, yang diambil dari perkembangan dana nasabah di Unit-Link itu, alias hak keuntungan nasabah bakal dipotong terus sampe masa pertanggungan asuransi selesai (100 tahun misalnya) guna membayar premi itu tadi. Padahal kita cuma butuh asuransi selama usia produktif aja, gak perlu sampe seumur hidup gitu. Nah…. udah sadar blom kalo pemilik Unit-Link itu adalah mesin uang abadi bagi perusahaan asuransi ? –No offense–

Ooo iya, pernah kebayang gak kalo seandainya polis Unit-Link kita itu ditutup otomatis ama perusahaan asuransi pada tahun ke-7 misalnya. Itu gara2 perkembangan dana Unit-Link kita gak mencukupi lagi untuk membayar premi asuransi nya. Hahhhh ???? Katanya masa pembayaran premi cukup 6 tahun aja udah gitu gak perlu bayar lagi ? Kok bisa pada tahun ke-7 malah polis nya otomatis ditutup ? Yaa kan udah gue bilang tadi, premi teuteup dibayar ampe usia 100 tahun sekalipun, dan bayarnya dari perkembangan dana investasi Unit-Link. Kalo dana investasi Unit-Link nya minus alias rugi ? Mo dibayar pake apa tuh premi ? Yaaa otomatis ditutup lah ama perusahaan asuransi. Kecuali kita mau nambah premi, baru deh polis nya bisa dilanjutin. Hahahaha…. makin kerasa gak jadi mesin uang dan dirampok ama maling seumur hidup ?

Jerat Kartu Kredit

Kalo ini bukan barang baru lagi, udah makin banyak dan akan terus banyak korban nya. Ini pun gue pernah nulis sedikit disini, meskipun teuteup banyak pro-kontra.

Pola hidup bangsa kita mau gak mau dan harus diakui masih terlalu konsumtif, terutama di kota-kota besar. Faktor gengsi, gaya hidup, dan juga pergaulan jadi alasan mereka untuk ber-pola hidup konsumtif. Indonesia adalah salah satu negara yang selalu mengikuti trend gadget terkini, bahkan gak jarang orang akan rela membeli peralatan elektronik dengan cara kredit jikalau mereka gak memiliki uang kontan untuk membeli nya.

Peluang ini yang ditangkap oleh bank penerbit kartu kredit di Indonesia. Dengan segala daya dan upaya nya, mereka pun me-rekayasa teknik pemasaran kartu kredit dengan berbagai macam skema. Pernah denger istilah minimum payment, late payment charge, balance transfer, tarik tunai, kredit 0%, dsb ? Semua itu diciptakan murni dengan tujuan untuk mengeruk dana dari nasabah kartu kredit. Bahkan sekarang, proses persetujuan prinsip untuk pengajuan kartu kredit bisa dalam hitungan hari aja dengan persyaratan yang terbilang mudah. Oleh sebab itu, jangan heran kalo ada orang yang di dompet nya terselip lebih dari 5 jenis kartu kredit dari Bank berbeda.

Sebenernya gak masalah kalo kita punya kemampuan untuk membayar tagihannya tepat waktu dan tanpa tunggakan. Tapi masalahnya, apa semua pemilik kartu kredit punya kemampuan itu ? Gak !!!

Tanpa disadari, para pemilik kartu kredit itu udah dijadiin mesin uang juga oleh si Bank. Gak percaya ? Coba bayangin gini aja…. Seandainya ada orang yang punya tagihan kartu kredit 10 juta aja misalnya, tapi dia gak punya kemampuan untuk ngelunasinnya langsung. Dengan senyum manis, orang Bank menawarkan bahwa tagihan itu bisa dibayar nyicil kok, minimum 2% aja dibayar tiap bulan dari total tagihan. Dengan kata lain, nasabah cukup bayar 200ribu aja tiap bulan tapi dengan bunga 2,5% per-bulannya alias 30% per-tahun.

Sekarang bayangin dehh…. kalo itung2an gue sih, tagihan kartu kredit itu baru bisa lunas sekitar 50 tahun lagi. Nah…. udah sadar blom kalo pemilik kartu kredit itu ber-potensi jadi mesin uang abadi bagi Bank ? Cape dehhhh……….

Jerat Pulsa Murah

Sektor telekomunikasi juga udah jadi salah satu pencipta mesin uang di Indonesia. Masih inget kan perang tarif beberapa waktu yang lalu dengan tulisan gede 0,0000000…..1 per-detik. Trus ada juga yang bilang sekian rupiah untuk 2 menit pertama, setelah itu gratis tiss tiss. Blom lagi yang nawarin nelpon gratis sepanjang malem tapi siangnya diporotin, atau nelpon gratis ke sesama operator , dll.

Semua itu murni perasan otak para ahli pemasaran di perusahaan operator telekomunikasi. Mereka berupaya me-rekayasa skema pentarifan agar serumit mungkin dan kalo bisa se-njlimet-njlimet nya sampe nasabah pun bingung kalo mau komplen. Tampilan depan nya jelas, mereka nawarin produk dengan biaya percakapan paling murah. Semua itu dilakukan untuk mendorong pelanggan nya agar mau terus memencet tombol handphone nya dan cuap-cuap siang malem ke teman, kolega, pacar, selingkuhan, dll. Gak perduli apakah percakapan itu penting atau gak penting, yang penting pulsa harus jalan terus.

Blom sadar juga ? Coba liat sekeliling dehhh…. Berapa banyak anak SD yang di lehernya tergantung handphone keluaran terkini ? Berapa banyak pembantu rumah tangga yang sembari ngepel lantai, cekikikan lagi pacaran ama satpam komplek lewat handphone nya ? Berapa banyak anak kecil dicuekin ama emak nya gara2 emaknya sibuk maen BB ?

Kalo kita mau sedikit kritis, kan biaya percakapan/data di handphone udah murah sekarang (kata iklan nya), kok perusahaan operator telekomunikasi itu makin gede aja yaaa untung nya ? Dapet duit dari mana mereka ? Yaa duit kita-kita ini lah sebagai pelanggannya. Kita “dipaksa” tanpa sadar untuk membayar sejumlah uang lewat pulsa dengan skema pentarifan yang njlimet itu tadi. Nah…. udah sadar blom kalo pengguna handphone itu udah jadi mesin uang abadi bagi perusahaan operator telekomunikasi ?

Intinya apa ?
  • Jangan mau jadi mesin uang abadi bagi korporasi-korporasi itu !!!
  • Kita udah susah payah mengeluarkan energi dan keringat untuk mencari nafkah bagi keluarga. Keluarkan dan belanjakan uang hanya untuk kebutuhan dan memang dibutuhkan.
  • Telaah dan analisa lagi perencanaan keuangan keluarga yang udah kita bikin, utama nya pada bagian pengeluaran. Buang pos pengeluaran yang gak perlu atau memang belum perlu untuk saat ini.
  • Kalo punya Unit-Link, cepetan tutup ! Gue konsisten dengan pendapat ini. Pisahin aja antara investasi dan asuransi. Kita bisa memangkas pengeluaran di pos ini sampe 80% nya
  • Kalo dompet tebel ama kartu kredit doang, tutup aja semua dan lunasin ! Kalo emang perlu, sisain aja 1 kartu kredit untuk antisipasi kebutuhan tak terduga dan bukan untuk belanja. Selalu bayar lunas tagihan nya dan tepat waktu biar gak kena bunga. Teuteup konsisten jaga kebiasaan ini sampe kapan pun.
  • Awasi penggunaan handphone pribadi, istri, ataupun anak2. Bukan awasi percakapannya, tapi awasi penggunaan pulsa nya. Jangan sampe tagihan bengkak atau duit abis beli voucher cuma buat ngobrol ngalor ngidul gak jelas atau chatting ngerumpi tanpa ujung.
  • Yang paling penting adalah jadiin uang/asset kita itu sebagai mesin uang untuk diri kita sendiri. Banyak caranya, lewat instrumen investasi keuangan, emas, properti, bisnis di sektor riil, dsb. Tapi harus jeli dulu sebelum memutuskan untuk bikin mesin uang, cari informasi yang banyak dan pelajarin profil dan juga resiko tiap instrumen.

–We should have the absolute power of our own money

Kalo udah gini, Insya Allah kesejahteraan ada di depan mata. Amiinn….

Buat komentar

Tambahkan komentar Anda disini, atau trackback dari website Anda sendiri. Anda juga dapat subscribe ke komentar-komentar via RSS.

Alamat email Anda tidak akan pernah di-share. Kolom yang harus diisi telah ditandai *